Skip to main content

Tokoh-tokoh Disiplin Ilmu Al-Qur’an

Siapakah yang berperan dalam dunia ulumul Qur'an?
Para mufassir yang cukup terkenal dikalangan sahabat, yang pertama ada khulafaul arba'ah, atau empat khulafaur Rasyidun. Mereka adalah orang yang paling berperan dalam penafsiran, hanya saja tidak mentadwinkan, mereka adalah para sahabat yang langsung menemui Rasulullah. Selanjutnya ada Ibnu mas'ud, Ibnu abbas, Ubay bin Ka'ab, Zaid bis tsabit, Abu Musa al asy'ari dan Abdullah bin zubair. 
Mereka adalah tokoh-tokoh sahabat yang paling terkenal dalam dunia penafsiran al-Qur‘an yang merupakan bagian dari ulumul Qur'an. 
Tafsir paling banyak diriwayatkan oleh Abdullah bin abbas, ibnu mas'ud, dan ubay bin Ka'ab. Tiga tokoh tersebut adalah sahabat yang datanya paling banyak digunakan oleh para mufassirin, misalnya dalam tafsir jalalain.
Kurun kedua, pada masa tabi'in. Dari kalangan Tabiin Paling dikenal adalah murid-murid Ibnu Abbas yang konsen dakwahnya di Makkah diantaranya ada Said bin Zubair, Mujahid, Ikrimah (budak dari Ibnu Abbas), Thawus bin kisan al yamani, Atha' bin Abi Rabbah. 
Ada juga murid-murid Ubay bin Ka'ab yang konsen di madinah seperti Zaid bin aslam, Abu Aliyah, muhammab bi Ka’ab al-Qurthubi
Adapun penerus Abdullah bin Mas'ud dalam mengembangkan Ulumul Qur'an di irak, diantaranya ada Alqamah bin Qais, Mas'ud, Aswad Bin yazid, Amir asy sya'bi, Hasan al Bashri, Qatadah bin tiamah
Perlunya mengetahui atau mengenal tokoh-tokoh tersebut adalah untuk mengetahui dimana mereka mendakwahkan tafsir.
Ibnu Taimiyah berkata bahwa dunia penafsiran paling unggul adalah dari ahlu makkah, yakni murid-murid Ibnu Abbas 
Kemudian dalam dunia asbab an-nuzul, pertama kali yang mengarang kitab mengenai Asbab an-nuzul adalah Ali bin al Madiny guru dari Imam Bukhari
Bahasan Ulumul Qur'an sangat banyak, bisa menyentuh 80 topik, jika diurai bisa menyentuh 300 tema. Karena banyaknya cabang ulumul Qur'an, banyak ulama yang menerangkan salah satu atau beberapa aspek saja, misalnya saja, ada yang menuliskan dari aspek asbab nuzul saja, atau nasikh wal mansukh saja. 
Ada profil-profil tertentu, tentang siapa yang pertama kali membukukan cabang ilmu tersebut. Karena ada tokoh islam yang ilmunya luar biasa hebat akan tetapi ilmunya terhenti ditengah jalan hanya karena satu permasalahan, yaitu beliau tidak membukukan. 
Misalnya, Daud al Ghairi, Sufyan ats Tsaury. Kalau yang membukulan dengan tangannya sendiri misalnya Imam Syafii. Sedangkan Imam Malik menulis tentang hadits Muwaththa', bukan kitab fikih nya. Di madzhab Manafi, beliau juga tidak punya karya sama sekali, tapi diabadikan murid-muridnya. Imam Ahmad bin Hanbal juga tidak punya karya tulis di bidang fikih karena sebenarnya ia spesialis di bidang hadits.
Maka banyak ide-ide muncul untuk membukukan cabang-cabang ilmu termasuk Ulumul Qur'an, seperti Nasikh Mansukh, Asbab an-nuzul, dan sebagainya. 

Comments

Popular posts from this blog

Ayat Al-Qur‘an yang Terakhir Turun

Ada banyak perkhilafan mengenai ayat yang terakhir turun. Ada yang mengatakan ayat yang terakhir turun adalah surat al-Maidah ayat 3. Ayat tersebut merupakan potongan kecil dari ayat yang terakhir turun, bukan keseluruhan ayat. Ada juga yang menyebutkan ayat yang terakhir turun adalah surat Al-Baqarah ayat 278, menerangkan tentang riba. Ada juga yang mengatakan surat Al-Baqarah ayat 281. Bagaimana menanggapi banyak pendapat tersebut? Manna al Qaththan dalam Mabahits fi Ulumul Qur'an, semuanya memakai kata qiila yang terjemahan bebas nya "telah dikatakan atau dikatakan". perlu diketahui, Manna al-Qaththan adalah tokoh wahabi, sebagai muslim Indonesia yang mengamalkan ajaran Ahlusunnah wal jama'ah   perlu kita memilah mana yang bisa kita ambil dan mana yang tidak.  Manna al-Qaththan tidak menyebutkan surat al-maidah ayat 3 sebagai ayat yang terakhir turun. Namun ia menyebutkan bahwa ayat yang terakhir turun dari berbagai versi. Salah satunya ayat membicarakan tenta...

Sudut Pandang Humaniora Dalam Menggali Pernikahan Sayyidah Aisyah

  Seolah lirik lagu yang viral seantero dunia maya, membukakan wawasan tergambarnya bak indahnya pernikahan Sayyidah Aisyah. Penggambaran Sayyidah Aisyah yang sering didengar dalam baitnya merupakan ilusi gambaran fisik saja. “ Yaa Khumairah ” (Wahai yang kemerah-merahan) pertanda Rasulullah memeberikan panggilan sayang untuk istrinya yang sangat terlihat putih dan tak hanya cantik saja. Tapi apakah benar hal ini yang harus dikenal bagi umat muslim terhadap Sayyidah Aisyah?     Sejarah mengatakan Rasulullah menikahi Sayyidah Aisyah pada umur 9 tahun yang dibiarkan 2 tahun. Bahwa sejarah memperlihatkan pernikahan mereka tidak diawali dengan rasa cinta dan hawa nafsu semata. Rasa cinta tumbuh dibangun setelah pernikahan ada dan tujuan pernikahan juga tidak sebagai bentuk pernikahan biasa melainkan mempererat hubungan Rasulullah dengan Abu Bakar yang merupakan pilihan sebagai pasangan hidupnya yang tidak hanya kebetulan, namun semua telah tertata dalam skenario Allah SW...