Ada banyak perkhilafan mengenai ayat yang terakhir turun. Ada yang mengatakan ayat yang terakhir turun adalah surat al-Maidah ayat 3. Ayat tersebut merupakan potongan kecil dari ayat yang terakhir turun, bukan keseluruhan ayat. Ada juga yang menyebutkan ayat yang terakhir turun adalah surat Al-Baqarah ayat 278, menerangkan tentang riba. Ada juga yang mengatakan surat Al-Baqarah ayat 281.
Bagaimana menanggapi banyak pendapat tersebut? Manna al Qaththan dalam Mabahits fi Ulumul Qur'an, semuanya memakai kata qiila yang terjemahan bebas nya "telah dikatakan atau dikatakan". perlu diketahui, Manna al-Qaththan adalah tokoh wahabi, sebagai muslim Indonesia yang mengamalkan ajaran Ahlusunnah wal jama'ah perlu kita memilah mana yang bisa kita ambil dan mana yang tidak.
Manna al-Qaththan tidak menyebutkan surat al-maidah ayat 3 sebagai ayat yang terakhir turun. Namun ia menyebutkan bahwa ayat yang terakhir turun dari berbagai versi. Salah satunya ayat membicarakan tentang kalalah (An-Nisa :176)
Pemakaian kata qiila dalam keterangan yang di sajikan oleh Manna al Qaththan menandai bahwa ia tidak bisa menyebut siapa yang berpendapat. Mengapa tidak memakai yang mutawatir saja? Sedangkan ada ayat yang jelas terakhir turun dari riwayat yang mutawatir yang kandungannya mengenai ikmaluddin (pernyataan sempurnanya agama islam) yaitu al-Maidah ayat 3 dan surat yang berbicara tentang eksistensi nabi Muhammad saw sebagai rasul.
Banyak riwayat hadits ketika ayat terakhir yaitu al-Maidah ayat 3, ekspresi para sahabat waktu itu langsung berasumsi bahwa Rasulullah sudah selesai misi kerasulannya, dan ternyata benar firasat tersebut. Tidak ada surat yang turun setelah itu.
Beberapa sanad keilmuan yang menjadi rujukan kebanyakan ulama diantaranya adalah dari Sayid Alawi bin Abbas dan Syekh Yasin bin Musa al Fadani yang merupakan pegangan pondok-pondok Saudi arabia. Sanad keilmuan dari ulama Indonesia maupun dunia berasal dari beliau tersebut.
Simak video lengkapnya mengenai Kajian Ulumul Qur'an di IAIN KUDUS di sini
Comments
Post a Comment