#Peran istri Rasulullah ketika Al-Qur’an Pertama kali turun
Berbicara mengenai ayat yang pertama kali turun tidak bisa dilepaskan dari situasi dan kondisi pada masa tersebut. Ketika ayat pertama turun, kondisi mental Nabi Muhammad karena melihat Jibril. Dalam hal ini terdapat siapa yang berperan ketika peristiwa itu terjadi. ketika Rasulullah mengalami kasus mental, ketika Nabi agak ketakutan, bagaimana sikap ibunda khadijah? Tersirat kecerdasan Ibunda Khadijah Sebagai wanita, dilihat dari bagaimana beliau menenangkan Rasulullah. Tapi waktu itu belum ada perawi hadits sehingga tidak begitu terekspos kecerdasannya. Perawi hadits muncul setelah Ibunda Khadijah wafat. Justru beliau menjadi tema dalam hadits. Tidak seperti ibunda Aisyah, gurunya para sahabat. Tidak ada rawi-rawi hadits yang tidak melalui ibunda Aisyah. Abu Hurairah misalnya, tidak meriwayatkan hadits selain dari ibunda Aisyah dan Rasulullah atau istilah dikalangan para santri "ngaji langsung" kepada Rasulullah di shuffah.
Ketika ada hal yang tidak mungkin diketahui orang lain, misalnya hubungan suami istri. Ketika membahas masalah mandi besar, ketika dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh at-Turmudzi. Dalam hal ini tidak mungkin orang lain yang mengetahui kecuali istri.
Dari kasus tersebut juga dapat diambil pelajaran penting bahwa wanita juga punya peran penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Paling tidak anaknya sendiri dan saudara-saudaranya, sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.
# Eksistensi mempelajari Ayat Al-Qur‘an yang Pertama Turun
Mungkin kajian kita hanya tentang awalu ma nazal, tapi eksistensi dari awalu ma nazal itu kemana-mana. Tidak bisa dilepaskan dari situasi apa yang terjadi saat itu serta siapa saja yang berperan saat ayat al-Qur‘an turun.
Kabar mengenai ayat yang pertama turun dapat diketahui melalui hadits yang diriwayatkan oleh ibunda Aisyah, turun ke Abu Hurairah, turun kepada Ibnu Mas'ud. Kemudian ketika hadits itu sudah sampai kepada kita, digunakanlah ilmu Takhrij Hadits untuk menentukan apakah hadits itu shahih atau tidak.
Mempelajari Ulumul Qur'an ini, kita diajak untuk berpikir cerdas dan berfikir lebih luas, bukan hanya sekedar terpaku pada teks saja. Seandainya pembahasannya hanya menyebutkan ayat yang pertama kali turun adalah al-Alaq ayat 1-5, pendapat lain mengatakan bahwa ayat yang pertama kali turun adalah al-Mudatsir. Maka pembahasan itu akan jadi monoton. Bukan disitu poin pentingnya, jika kita ingin kajian yang lebih jauh. Diantara yang perlu diperhatikan, ada perawi, ada yang berperan saat itu. Di akhir ada closing statement nya yang akan kita temukan, mengapa itu penting untuk dipelajari.
Berkaitan dengan judul kajian yang tertera di pamflet, "Benarkah Iqro' adalah ayat yang pertama kali turun?" Pembahasan ini dapat berkaitan dengan perintah shalat. Bagaimana Rasulullah shalat, apabila hanya al-Alaq 1-5 yang turun, setelah shalat itu difardlukan? Adapun ketika perintah sholat sebelum difardlukan, adalah dengan berdzikir. Setelah peristiwa isra mi'raj yang intisarinya adalah bentuk peringanan shalat dari 50 waktu menjadi 5 waktu. Jum’at paginya malaikat Jibril mengajari secara perlahan gerakan shalat serta bacaan-bacaannya.
Ada pendapat yang mengatakan awalu ma nazal adalah al-Fatihah, ada juga yang berpendapat awalu ma nazal adalah Iqro' 1-5, pendapat lain mengatakan ayat yang pertama kali turun adalah al-Mudatsir. Jadi mana yang benar?
Ketiga pendapat tersebut benar, akan tetapi ketiganya memiliki perbedaan.
Al-Alaq (Iqro') adalah ayat yang pertama kali turun (awalu ayat). Sedangkan al-Fatihah merupakan surat yang pertama kali turun/awalu surah (turunnya langsung satu surat penuh), adapun al-Mudatsir merupakan Surat yang pertama kali turun setelah risalah. Jadi ada perbedaannya. Di kondisi apa potongan ayat itu turun.
# Konsep Anzal dan Nazal
Kapan turunnya surat alfatihah?
Surat al-Fatihah adalah salah satu surat yang turun tanpa sebab. Diantara surat-surat Al-Qur’an ada kalanya surat tersebut turun karena ada sebab, misalnya; ada pertanyaan dari umat Rasulullah, karena problematika dakwah dan sebagainya. Namun ada pula ayat yang turun tanpa sebab. Ini dapat kita temukan dalam Ulumul Qur'an kajian tentang asbab an-nuzul.
Surah Alfatihah turun ketika Rasulullah dalam keadaan hadhari (Rasulullah sedang di rumah) dan termasuk ayat laili yang turun saat kondisinya malam hari dan Rasulullah tidak sedang berjalan-jalan (santai).
Rasulullah mulai mendapat wahyu turun wahyu ketika usia 40 tahun (risalah), adapun usia 25 adalah nubuwwah/beliau diangkat menjadi nabi (pada waktu itu sudah ada dakwah sirriyah/dakwah secara sembunyi-sembunyi). Baru pada usia 40 tahun ada perintah dakwah jahriyah(dakwah secara terang-terangan. Sejak itulah al-Qur’an turun dan berlangsung selama 22 tahun. Apa perbedaan turunnya Al-Qur’an pada 17 ramadhan dgn Al-Qur’an diturunkan berkala itu? Secara tekstual memang terlihat kontradiktif.
Bulan ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sudah banyak diketahui keterangan mengenai itu bahwa Al-Qur'an diturunkan sekaligus atau satu paket pada bulan Ramadhan dari lauh mahfuz ke langit dunia.
Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad secara berkala. Itu dapat kita temukan dalam kajian bahasa Al-Qur’an. Kalau anzala itu maksudnya adalah turun secara sekaligus/langsung satu paket. Tapi kalau Nazzala maksudnya adalah turun secara berkala. Anzala dan Nazzala, perbedaannya jika ditinjau dari segi bahasa, misalkan qatha'a(memotong) dengan qaththa'a (dengan tasydid) yang artinya memotong-motong (mengandung takdir (pengulangan).
Ulumul Qur'an mengajak kita untuk belajar sekian macam disiplin ilmu. Melalui Ulumul Qur'an itu kita diotomatiskan jadi orang cerdas. Perlahan kita ditarik ke arah itu secara perlahan dan bertahap. Selain cerdas intelektual, juga mengasah kecerdasan emosional. Mengapa emosional juga? Di akhir ayat al-Qur‘an itu selalu punya rahasia. Dalam suatu kasus, ada seorang Arab yang memiliki dhabt/keahlian dalam bidang arabiah yang luar biasa, bukan seorang ulama. disebutkan dalam Shafwat at-Tafasir karya Ali ash Shabuni. Dalam ayat mengenai hukum potong tangan,
"Assariqu wa as-Sariqatu faqtha'u aidiyahuma jazaaan bima kasaba nakalan min Allah ... "
Seorang yang ahli bahasa itu menyebutkan, bagian akhir dari ayat tersebut adalah Wallahu Ghafurun rohiim. Tentu saja tidak sesuai. Bagaimana bisa Al-Qur’an menyebutkan hukuman mencuri adalah potong tangan, di akhir ayatnya menyebutkan sifat allah maha pengampun lagi maha penyayang. Dimana bentuk rahmat Allah? Tentu tidak ada koneksinya. Lalu di cek ulang ternyata akhir ayatnya wallahu Azizun hakim. Al-Qur'an memiliki diksi yang luar biasa di setiap ayatnya. Ada diksi qaulan ma'rufa, qaulan laziman dan qaulan sadida. Itu mempunyai kasus yang berbeda-beda. Dalam kisah Nabi Musa. Penggalan ayat
"la'alahu yatazakar au yakhsya" yang maksud dari ayat tersebut adalah Allah menghimbau kepada Nabi Musa untuk memperingatkan Fir'aun secara halus, siapa tau dengan cara tersebut ia dapat bertaubat.
Dari sini kita bisa memahami, kajian Al-Qur’an per kata saja itu sudah mengandung ilmu. Kadang kita sendiri juga tidak sadar ketika dalam al-Qur‘an disebutkan ada dua kata yang sama artinya ketika diterjemahkan, akan tetapi maknanya berbeda. Misalnya walaqad ataka ada walaqad jā-aka, meskipun artinya sama-sama datang, tapi konotasinya berbeda.
Ada kenikmatan membaca al-Qur’an dari setiap mufrodat, penutup ayatnya.
Tentu ini beberapa ulama sepakat bahwa mempelajari Al-Qur’an itu suapaya kita lebih dekat kepada allah, karena al-Qur’an adalah kalam allah. Dalam riwayat yang mutawatir Imam Ahmad bin Hanbal bermimpi sembilan puluh sembilan kali bertemu Allah tapi tidak ada dialog sama sekali. Begitu ketika mimpi yang ke-100 ada dialog
"Ya allah amalan apa yang bisa memperdekatkan kepada engkau?"
Dijawab oleh allah "bacalah Al-Qur’an"
Berkata imam Ahmad "walaupun tidak paham?"
"Ya, walaupun tidak paham"
Tidak faham sudah mendekatkan Allah apalagi memahami. Jadi dengan membaca Al-Qur'an secara emosional adalah mengenal Allah jauh lebih dalam.
Nanti bagian terakhir kita akan mempelajari washal dan waqaf. Kapan saatnya waqaf, kapan saatnya wash, karena kandungan penutupnya berbeda. Ada kata "ghafur rahim, ghafur syakur, bikulli syaiin alim, dll"
Penutup ayat itu menyesuaikan dengan kandungan. Dari titik mana kita tau serta pada titik apa allah menerangkan itu.
Bahkan pada kasus yang tidak ada kaitannya sama akhirat. Urusan korupsi misalnya, Allah menunjukkan eksistensinya. Pada surat Al-Baqarah ayat terpanjang, bagian ayat terakhir yaitu "Wallahu bikulli syaiin 'aliim". Disebutkan saksi yang harus ada dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki dan dua perempuan. Artinya kalau tidak memenuhi syarat tersebut maka si tersangka menang. Namun di bagian akhir penutupnya Allah menunjukkan eksistensinya "Allah maha mengetahui segala sesuatu" Bagaimanapun rapinya tindakan korupsi mereka tidak akan luput dari pengawasan Allah.
Karena luar biasanya mempelajari Al-Qur'an, patutlah kita percaya diri terutama mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Tafsir. Nikmatilah menu istimewa itu.
Comments
Post a Comment