Skip to main content

Sejarah Awal Pentadwinan Al-Qur’an

Pertama kali, munculnya penulisan Al-Qur’an adalah pada masa Rasulullah atas petunjuk  dan perintah Rasulullah sendiri. Beliau juga membimbing tartib atau urutan penulisan ayat. Rasulullah menekankan larangan dalam penulisan hadits. kalau ada yang menulis selain al-Qur’an. Beliau memerintahkan untuk menghapusnya, adapun untuk menyampaikan profil/sabda beliau itu diperbolehkan.
Terlebih karena masa itu, media tulis terbatas, dikhawatirkan nanti hadits nabi bercampur dengan al-Qur’an. Baru kemudian saat islam makin kuat, dan para hafiz sudah banyak baru diperbolehkan mencatat hadits.
Pada era kepemimpinan Abu Bakar, era pertama kali al-Qur’an dikumpulkan, atas ide dari sayyidina Umar bin Khatthab. Melihat fenomena pada masa itu, banyak kaum murtadin sehingga program Abû Bakar waktu itu adalah memerangi orang-orang murtad. Karena dikhawatirkan para sahabat yang hafiz semakin banyak  yang gugur, sehingga Al-Qur’an tidak bisa didokumentasikan. 
Utsman memperbanyak, mengumpulkan data Qira'at. 
Orang yang pertama kali membaca al-Qur’an setelah Rasulullah adalah siti Khadijah, yang pertama kali pentadwinan Al-Qur’an adalah Abu Bakar, atas ide Umar bin Khatthab, dan yang membukukan dan memperbanyak adalah Utsman bin Affan dengan mengumpulkan data tilawah.

Comments

Popular posts from this blog

Ayat Al-Qur‘an yang Terakhir Turun

Ada banyak perkhilafan mengenai ayat yang terakhir turun. Ada yang mengatakan ayat yang terakhir turun adalah surat al-Maidah ayat 3. Ayat tersebut merupakan potongan kecil dari ayat yang terakhir turun, bukan keseluruhan ayat. Ada juga yang menyebutkan ayat yang terakhir turun adalah surat Al-Baqarah ayat 278, menerangkan tentang riba. Ada juga yang mengatakan surat Al-Baqarah ayat 281. Bagaimana menanggapi banyak pendapat tersebut? Manna al Qaththan dalam Mabahits fi Ulumul Qur'an, semuanya memakai kata qiila yang terjemahan bebas nya "telah dikatakan atau dikatakan". perlu diketahui, Manna al-Qaththan adalah tokoh wahabi, sebagai muslim Indonesia yang mengamalkan ajaran Ahlusunnah wal jama'ah   perlu kita memilah mana yang bisa kita ambil dan mana yang tidak.  Manna al-Qaththan tidak menyebutkan surat al-maidah ayat 3 sebagai ayat yang terakhir turun. Namun ia menyebutkan bahwa ayat yang terakhir turun dari berbagai versi. Salah satunya ayat membicarakan tenta...

Tokoh-tokoh Disiplin Ilmu Al-Qur’an

Siapakah yang berperan dalam dunia ulumul Qur'an? Para mufassir yang cukup terkenal dikalangan sahabat, yang pertama ada khulafaul arba'ah, atau empat khulafaur Rasyidun. Mereka adalah orang yang paling berperan dalam penafsiran, hanya saja tidak mentadwinkan, mereka adalah para sahabat yang langsung menemui Rasulullah. Selanjutnya ada Ibnu mas'ud, Ibnu abbas, Ubay bin Ka'ab, Zaid bis tsabit, Abu Musa al asy'ari dan Abdullah bin zubair.  Mereka adalah tokoh-tokoh sahabat yang paling terkenal dalam dunia penafsiran al-Qur‘an yang merupakan bagian dari ulumul Qur'an.  Tafsir paling banyak diriwayatkan oleh Abdullah bin abbas, ibnu mas'ud, dan ubay bin Ka'ab. Tiga tokoh tersebut adalah sahabat yang datanya paling banyak digunakan oleh para mufassirin, misalnya dalam tafsir jalalain. Kurun kedua, pada masa tabi'in. Dari kalangan Tabiin Paling dikenal adalah murid-murid Ibnu Abbas yang konsen dakwahnya di Makkah diantaranya ada Said bin Zubair, M...

Sudut Pandang Humaniora Dalam Menggali Pernikahan Sayyidah Aisyah

  Seolah lirik lagu yang viral seantero dunia maya, membukakan wawasan tergambarnya bak indahnya pernikahan Sayyidah Aisyah. Penggambaran Sayyidah Aisyah yang sering didengar dalam baitnya merupakan ilusi gambaran fisik saja. “ Yaa Khumairah ” (Wahai yang kemerah-merahan) pertanda Rasulullah memeberikan panggilan sayang untuk istrinya yang sangat terlihat putih dan tak hanya cantik saja. Tapi apakah benar hal ini yang harus dikenal bagi umat muslim terhadap Sayyidah Aisyah?     Sejarah mengatakan Rasulullah menikahi Sayyidah Aisyah pada umur 9 tahun yang dibiarkan 2 tahun. Bahwa sejarah memperlihatkan pernikahan mereka tidak diawali dengan rasa cinta dan hawa nafsu semata. Rasa cinta tumbuh dibangun setelah pernikahan ada dan tujuan pernikahan juga tidak sebagai bentuk pernikahan biasa melainkan mempererat hubungan Rasulullah dengan Abu Bakar yang merupakan pilihan sebagai pasangan hidupnya yang tidak hanya kebetulan, namun semua telah tertata dalam skenario Allah SW...