Kehadiran penemuan baru dari sebuah pandemi virus yang masih keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang ini yang beken dikenal dengan Covid 19. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus SARS CoV.2, pertama kali diidentifikasi di kota Wuhan, Cina pada Desember 2019. Hal ini benar-benar mengguncangkan seluruh kehidupan manusia. Bahkan, gemerlap kehidupan dinamika bilik kampus tidak selamat dri efek pesebaran pandemi Covid 19.
Realita kehidupan kampus merupakan gambaran virtual suatu masyarakat dengan porak porandahnya. Dengan riuk piuh kepongahan menjadikan potret dunia masa depan suatu masyarakat. Dengan mengusung kehidupan masyarakat yang berpijak pada tekhnologi 4.0 dan bahkan menuju 5.0. Semua itu ilusi semata, hanya gambar buku yang tak lagi menyejukkan mata.
Telah sekian bulan Pemerintah mencanangkan dalam dunia pendidikan yang khususnya dalam dinamika kampus dengan memberlakukan kuliah tanpa tatap muka atau yang biasa kita kenal online. Surga tekhnologi yang diusung oleh dunia kampus dengan budget yang tak terbatas nyaris hanyalah ilusi. Para pemangku kebijakan mengikuti instruksi Mendikbud Nadiem Makarim dengan pilihan yang beragam.
Keresahan yang dirasakan oleh para dosen generasi orde baru yang ngos-ngosan dengan mengulir dan mempelajari dunia daring melalui para dosen milenial, yang mana dengan segala atribut mereka yang memamerkan perkuliahan di media sosial. Tidak dipungkiri seakan-akan, dinamika kampus terlihat kudet tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya.
Sedangkan, para mahasiswa merasakannya seolah-olah menjadi angin segar dengan bayangan dunia penuh rebahan. Bayangan indah menjadi suram, imajinasi yang tak selaras dengan kanyataan dengan dibubuhi berbagai penugasan, dan kuota yang terkuras berkelipatan.
Mipi buruk pun datang berkeliaran di kalangan mahasiswa generasi harapan bangsa yang menggejala seantero Nusantara. Tak sedikit dari mereka, lalu ramai membuat petisi menuntut fasilitas untuk sistem perkuliahan jarak jauh. Tampilan protes dan tuntutan di media sosial bak jamur di musim hujan.
Jelas dampak dari dunia online dalam dinamika kampus adalah orang tua penyandang dana kehidupan virtual masyarakat kampus. Dana yang dibutuhkan harus di rogoh lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan kuota generasi harapan masa depan disaat terkurasnya tabungan.
Problem ini, penulis merasakan pada gagapnya kebijakan. Pada proses pembelajaran di dunia kampus masih berpaku pada level instalasi kognisi. Semestinya, dunia kampus dapat menerjemahkan kecendekiawaan dengan menanamkan nilai-nilainya di kalangan mahasiswa. Yang mana, sinergitas antara khadimul ‘ilmi menyoal pengetahuan dan khadimul ummah menyoal kehidupan masyarakat perlu diselaraskan untuk membentuk kemerdekaan dinamika kampus.
Disamping itu, sebuah kebijakan haruslah dibarengi dengan kematangan persiapan supra-struktural yang jelas dengan membawakan isi dari sebuah edaran. Sebab, kebijakan yang tanpa persiapan matang hanya memeberikan edaran kosong yang menguras kuota semata.
~Tinta Hitam~
Comments
Post a Comment