Wanita (W-A-N-I-T-A), tidak ada habis-habisnya jika membicarakan dan mendiskripsikan tentang wanita. Sebagian orang memandang bahwa wanita adalah kaum lemah, penangis, cerewet, manja bahkan orang yang sok menggurui. Tapi keadaan itu tidak selalu benar. Keadaan nyatanya, wanita adalah makhluk tuhan yang penyayang, sabar bahkan wanita sekarang tidak kalah dengan seorang laki-laki.
Seiring berjalannya waktu dengan pergantian zaman, wanita kini jauh lebih berkembang dari kaum adam. Kini sering menjumpai wanita yang memimpin jalannya politik, bahkan wanita juga mampu memimpin jalannya sebuah pemerintahan dalam Negara. Presiden kelima kita, Ibu Megawati Soekarno Putri misalnya. Yang telah ditetapkan sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia.
Hal tersebut membuktikan bahwa kaum hawa dapat menjadi spirit dalam menunjukkan jati dirinya. Kemampuan terseebut dapat menjadi indikator agar wanita lebih memotivasi dalam meningkatkan peran dan partisipasinya dalam berbagai aspek kehidupan.
Walaupun demikian, hal tersebut tidak terlepas dengan kodrat wanita. Yaitu seorang wanita yang belum menikah adalah pintu surga bagi orang tuanya. Jika wanita tersebut sudah menikah, maka suaminyalah yang menjadi pintu surga baginya.
Bicara soal wanita, ada begitu banyak persoalan mengenai wanita. Salah satunya persoalan mengenai wanita karir. Yah di era modern saat ini sering kita jumpai adanya wanita karir. Sebagai seorang wanita ia ingin memiliki harta dari usahanya sendiri. Namun, hal tersebut sudah berbeda dengan wanita yang sudah memiliki keluarga, terlebih yang sudah mempunyai anak.
Dampak yang dirasakan pada wanita karir yang telah berkeluarga adalah kurangnya perhatian saat nenjadi peran sebagai seorang ibu atau istri kepada anaknya. Pada umumnya, wanita karir pulang dalam keadaan letih, setelah seharian bekerja diluar rumah. Hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kesabaran yang ia miliki dalam hal pekerjaan sehari-hari atau menghadapi anak.
Sering kita jumpai seorang ibu tidak begitu akrab dengan anaknya, karena terlalu lamanya sang ibu menitipkan buah hatinya di penitipan anak ataupun asisten rumah tangga. Hal tersebut dapat merenggangkan hubungan baik antara seorang ibu dan buah hatinya. Akan tetapi seorang anak membutuhkan kasih sayang dari seorang ibulah dan perhatian yang lebih. Karena ibulah sebgai madrasah pertama untuk anaknya.
Pada akhirnya setiap karir wanita harus kalah dengan kewajibannya sebagai malaikat rumah mungilnya, menjaga anak-anaknya dan berbakti kepada suaminya. Tiada kewajiban bagimu wahai wanita karena suamimulah yang bertanggungjawab atas nafkahmu dan anak-anakmu. Apakah hal tersebut menjadikan kesalahan bagi seorang wanita? Ataupun wanita karir seperti apa yang telah diajarkan dalam ajaran agama kita, yaitu agama islam? Dan sipakah wanita karir itu?. Mari kita ulas bahasan yang menjadi problematika dalam masyarakat ini.
Problematika dalam wanita karir menjadikan seorang wanita beban akan adanya ketidak sesuaian dalam kehidupan sekarang. Akan tetapi, wanita karir / Emansipasi wanita yang memiliki beberapa peran kelebihan dalam rancah kehidupan yang diantaranya :
( Dengan berkarir, seorang wanita tentu saja mendapatkan imbalan yang kemudian dapat
dimanfaatkan untuk menambah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.
( Wanita karir akan melakukan suatu kegiatan yang dapat dijadikan sebagai alat untuk
mengembangkan potensi dalam diri mereka.
( Wanita karir dapat menjadi sumber daya potensial yang diharapkan dan berperan aktif
dalam pembangunan serta dapat berguna bagi masyarakat, agaman, nusa dan bangsa.
( Wanita karir yang dibutuhkan dimasyarakat akan mendapatkan kepercayaan diri yang
lebih dibandingkan dengan wanita yang hanya bekerja dirumah.
Sering sekali problematika wanita karir itu dalam hal dunia pekerjaan. Pada umumnya sebuah keluarga bangga jika anaknya memiliki pekerjaan yang mapan. Persoalan wanita karir banyak persoalan yang masih dibicarakan dan pada dasarnya ada beberapa penyebab seorang wanita untuk berkarir diantaranya:
a. Untuk mengisi waktu. Biasanya alasan ini dikemukakan oleh seorang wanita yang suaminya bekerja kantor dan sudah mampu memenuhi nafkah lahir.
b. Untuk menambah kebutuhan keluarga. Biasanya dilakukan oleh wanita yang bersuami tetapi kebutuhan belum tercukupi baik untuk anak maupun kebutuhan sehari-hari.
c. Untuk menafkahi keluarga. Biasanya dilakukan oleh seorang wanita yang benar-benar tidak bersuami atau memiliki suami yang sedang sakit dan tidak mampu menafkahi keluarga secara lahir.
d. Perkembangan sektor industri. Karena kenaikan kegiatan di sektor industri terjadi penyerapan besar-besaran terhadap tenaga kerja. Karena kekurangan, banyak tenaga kerja diperbantukan, terutama pada pekerjaan yang tidak membutuhkan dan pikiran terlalu berat.
e. Di dunia maju kondisi kerja yang baik serta waktu kerja yang singkat memungkinkan para wanita pekerja dapat membagi tanggung jawab pekerjaan dengan baik.
f. Kemajuan wanita di sektor pendidikan yang akibatnya banyak wanita terdidik tidak lagi merasa puas bila hanya menjalankan peranannya di rumah saja.
Dalam ulusan dan alas an diatas adalah alas an yang wajar bagi seorang wanita yang hidup pada zaman seperti sekarang ini. Wanita karir saat ini merujuk pada mereka yang bekerja diluar rumah seperti di kantor, dan mendapat gaji. Dalam Al-qur’an juga telah dijelaskan bahwa setiap manusia hendaknya mencari rizki dengan cara bekerja. Melalui firman Allah tersebut dapat dipahami, setiap manusia termasuk wanita berhak untuk bekerja dan mendapat ganjaran setimpal dari apa yang mereka kerjakan. Sehingga dalam islam hukum wanita bekerja adalah mubah. Walaupun demikian wanita haruslah memperhatikan syarat-syarat yang harus dilaksanakan semestinya seperti halnya:
Menutup aurat
Menghindari fitnah
Mendapatkan izin atau restu dari orang tua, suami bagi wanita yang telah menikah
Tetap menjalankan kewajibannya dirumah bagi yang telah menikah
Meskipun demikian menjadi wanita karir dan wanita profisional maka haruslah tetap menjalankan dengan memenuhui kewajiban sebagai kodrat wanita didalam mengasuh anak dan mengatur rumah tangga bagi yang telah menikah. Jika kita biasa menjaga muru’ah dan etika sebagai wanita yang baik, maka kita bebas berprofesi sesuai keinginan kita dengan memperhatikan batasan-batasan hukum.
Dengan demikian, kita dapat melihat pada zaman sekarang. Wanita karir zaman sekarang lebih-lebih tidak hanya di luar rumah saja. Akan tetapi wanita karir sekarang kebanyakan di dalam rumah. Perkembangan zaman semakin canggih dengan bantuan internet. Wanita karir sekarang dapat meminimalisir dengan banyaknya wanita karir yang dikatakan harus keluar rumah. Itu juga dapat membantu kembalinya dalam kodrat wanita. Tidak selamanya kodrat itu tercegah dengan adanya kesibukan. Jika kita benar-benar dapat menjadi wanita solikhah dan kita mengetahui akan adanya kewajiban dalam seorang wanita maka kita lakukan dengan sedemikan rupa dengan sepintarnya kita dalam membagi waktu.
Jika kita melihat pada masa Nabi, umumnya wanita memang berada di rumah untuk menjalankan tugas sebagai istri dan ibu. Hal ini sangat wajar karena banyak dari suami yang harus meninggalkan rumah untuk berperang dalam jangka waktu tertentu. Tetapi untuk saat ini, budaya tersebut sudah jarang dijumpai, hanya beberapa kalangan saja seperti tentara yang harus bertugas mengamankan negara sehingga meninggalkan keluarga di rumah. Yang banyak terjadi adalah suami pulang ke rumah setelah selesai bekerja. Sehingga tidak menutup kemungkinan ia bisa membantu mengurus rumah tangga.
Islam adalah agama yang memudahkan
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”Q.S. Al-Baqoroh: 185.
Ayat di atas menegaskan bahwa sesungguhnya Allah menghendaki kemudahan bagi hambaNya. Tidak hanya untuk hamba yang laki-laki, namun juga untuk wanita. Ketika seseorang dalam keadaan yang terdesak, maka menjadi wanita karir bukanlah hal yang dilarang. Terlebih saat ini sudah banyak wanita yang mengenyam dunia pendidikan. Apa yang ia raih saat mendalami proses belajar, pasti bisa menjadi bekal saat ia terjun ke dunia publik. Sehingga, selama karir yang ia jalani tidak melanggar norma agama dan juga tidak menimbulkan permasalahan dalam sosialnya terlebih tidak diluar kodrat wanita, maka menjadi wanita karir bukanlah hal yang hina dan dilarang agama.
Oleh karena itu, Didalam Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.
Didalam Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya. Maka sebaiknya sebagai wanita kita harus patuh pada suami kita dan alangkah baiknya walaupun kita telah mengenyam pendidikan bertahun-tahun dengan mendapatkan gelar akan tetapi itu semua sirna, tidaklah harus berfikiran sedemikian itu, karena itu telah menjadi kodrat seorang wanita dan menjadi kewajibannya dalam kehidupan. Semua itu jika dilakukan dengan penuh keikhlasan dan pengabdian kepada seorang suami dengan mengharap ridho Allah maka akan mendapatkan semua yang telah dilakukannnya yaitu pahala dari Allah.
Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita.
Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut.
Selain itu, bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin.
Wanita Karir Sebagai Bentuk Pengabdian
Ada yang berpendapat bahwa menjadi wanita karir adalah suatu keringanan yang diberikan bagi wanita. Agar tidak terlalu jenuh di ruang domestik, maka ia diberi kelonggaran untuk berekspresi di luar rumah. Pendangan semacam ini sebenarnya adalah perlakuan yang tidak menghargai wanita. Biar bagaimanapun, apa yang dilakukan seorang wanta di publik adalah bagian dari pengabdian dan kesolehan sosialnya. Allah pun telah menjanjikan pahala yang besar bagi manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang beramal baik. Hal ini termaktub dalam Q.S. An-Nahl :97.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Tidak dapat dipungkiri saat ini semua sektor kehidupan berjalan semakin pesat ditandai dengan semakin gencarnya perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi. Tentunya, perkembangan zaman tersebut memerlukan kesiapan serta inovasi dari sumber daya manusianya. Jika kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh manusia tidak dipupuk sedemikian rupa, mereka akan semakin tergerus oleh zaman dan terpinggirkan dari kehidupan, termasuk wanita. Wanita juga memiliki peluang untuk mengembangkan potensinya di dunia karir. Jika hal ini tidak diasah, maka potensi itu akan hilang dan seorang wanita muslim akan semakin ketinggalan zaman.
Melihat beberapa petunjuk Nash yang menganjurkan umat manusia untuk berbuat baik serta perubahan sosial dan budaya di tengah-tengah masyarakat modern, maka menjadi wanita karir bukanlah hal yang tidak patut dihargai karena ia juga berjuang untuk membangun peradaban yang lebih baik melalui pengabdiannya. Sehingga, pandangan bahwa wanita yang berkarir adalah hina sebaiknya dihilangkan agar kemaslahatan manusia senantiasa terjaga dan tumbuh subur di bumi Sang Maha Kuasa.
Pada hakikatnya, mau menjadi wanita karir yang membantu suami menambah pendapatan, tanpa meninggalkan tugas utama menjadi seorang istri dan ibu yang memenuhi kebutuhan keluarga itu dapat menjadikan solusi dalam berbagai anggapan yang kurang mengenakkan dalam memandang sebagai wanita karir.
Mau menjadi istri dan ibu rumah tangga yang full berada di rumah. Menyiapkan kebutuhan suami, merawat dan mendidik anak. Semuanya menjadi sangat baik apabila dilandasi dengan kesadaran untuk saling mengerti. Bukan sekedar untuk memenuhi keinginan, kebutuhan terlebih gengsi yang tidak menguntungkan siapapun.
Mau lulusan SD, SMP, SMA, atau sarjana. Kedua profesi tersebut menjadi sebuah anugerah bagi seorang wanita.
Sebab jika ingin kembali mengingat bahwa setiap manusia memiliki jatah rejeki masing-masing dan Allah telah menakdirkan pada setiap makhluknya, maka wanita adalah salah satu yang bisa menjadi makhluk hebat yang mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu. Menjadi istri, ibu dan sekaligus wanita karir.
Nah, untuk kita yang bahkan belum menikah dan memiliki anak. Maka cobalah untuk menuliskan kembali, mana yang akan dipilih. Meski pada akhirnya akan ada keputusan bersama dalam mendapatkan keputusan besar ini. Tidak ada salahnya jika kita tahu bagaimana harus menjadi seorang wanita yang tidak menyalahkan keadaan, tapi menerimanya sebagai anugerah dan jalan mencari berkah.
Tips bagi wanita berkarir, Pilihlah karier yang tidak mendekati mudharat, tidak membuat diri tergadai kesuciannya. Tentukan alokasi waktu untuk menjalin hubungan baik dengan suami dan seorang anak, serta mempunyai jadwal rutin silaturrahim dengan orangtua, mertua, maupun tetangga dekat. Selalu mendahulukan kepentingan suami dan anak daripada prioritas-prioritas lainnya yang menjadikan penghalang sebagai kewajiban seorang wanita itu merupakan salah satu hal paling penting.
Dan yang terpenting lagi, “Jangan meremehkan siapapun dan apapun pekerjaan mereka. Mau di luar ataupun di dalam rumah, mereka adalah makhluk yang menciptakan banyak perubahan dengan cara yang lembut namun tetap tegas.
Jangan pernah merasa rendah diri saat banyak orang mencela apa yang kita pilih. Bahkan mereka pun tidak pernah tahu bagaimana kerasnya berjuang untuk bisa menjadi dan memberikan yang terbaik untuk dunia melalui tangan lembutnya.
Jangan pernah menjadi wanita karir yang lupa akan atas kodratnya sebagai wanita dalam hal pengabdian kepada orang tua ataupun mengurusi rumah tangganya ataupun kewajiban mengurus anak. Jadilah wanita sesuai yang dituntunkan dalam firman-firman Allah dan sabda Rasulullah.”
-Tinta Hitam-
Comments
Post a Comment